Aceh Masuk Siaga Hujan Lebat 2–5 Oktober, BMKG Ingatkan Potensi Petir dan Angin Kencang

Foto | Ilustrasi BMKG mengingatkan masyarakat Aceh terhadap potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang pada awal Oktober 2026.(dok.kreasi AI AGN)

Sabang.AGN – Masyarakat Aceh diminta meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi cuaca ekstrem pada awal Oktober 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memasukkan Aceh dalam kategori siaga untuk periode 2 hingga 5 Oktober, dengan peluang hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang.

Peringatan tersebut dikeluarkan setelah sejumlah wilayah Aceh juga mengalami hujan dengan intensitas tinggi menjelang berakhirnya September. BMKG mencatat curah hujan mencapai 84 milimeter dalam satu hari pada periode 25 hingga 27 September 2026.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda sekaligus Koordinator UPT BMKG Provinsi Aceh, Cucu Kusmanyancu, mengatakan kondisi cuaca tersebut perlu menjadi perhatian karena musim hujan di Aceh tidak mencapai puncaknya secara bersamaan.

Berdasarkan pemantauan BMKG terhadap 16 Zona Musim (ZOM) di Aceh, puncak musim hujan diperkirakan berlangsung pada Oktober, November hingga Desember 2026. Sebagian besar wilayah diprediksi memasuki puncak hujan pada November.

“Berdasarkan 16 Zona Musim (ZOM) di Provinsi Aceh, prakiraan puncak musim tersebar ke dalam tiga bulan, Oktober, November, dan Desember,” kata Cucu dalam keterangannya yang diterima Selasa (29/9/2026).

Dari 16 zona tersebut, 10 zona atau sekitar 62,5 persen diprakirakan mencapai puncak musim hujan pada November. Sementara satu zona memasuki puncak pada Oktober dan lima zona lainnya diprediksi mencapai puncak pada Desember.

BMKG juga memperkirakan karakteristik musim hujan di Aceh berada pada kategori normal di sembilan zona dan atas normal pada tujuh zona. Kondisi tersebut membuat kesiapsiagaan perlu disesuaikan dengan perkembangan cuaca di masing-masing wilayah.

Secara meteorologis, peningkatan pembentukan awan hujan di Aceh dan wilayah perairan sekitarnya dipengaruhi aktivitas gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial dan Kelvin. Kondisi angin yang melambat serta adanya belokan angin di sejumlah wilayah juga dapat memicu berkumpulnya massa udara dan mendukung pertumbuhan awan hujan.

Pemerintah Aceh telah membahas langkah antisipasi bersama BMKG untuk menghadapi potensi bencana hidrometeorologi selama periode musim hujan. Plt Sekretaris Daerah Aceh Taufik meminta informasi cuaca dijadikan salah satu dasar dalam menentukan langkah kesiapsiagaan pemerintah.

“Informasi seperti ini sangat penting, terutama bagi masyarakat,” ujar Taufik.

Informasi mengenai potensi cuaca dan langkah kesiapsiagaan selanjutnya diteruskan kepada pemerintah kabupaten dan kota. Pemerintah daerah diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan bencana yang dapat muncul selama periode Oktober hingga Desember.

Masyarakat juga diimbau melakukan langkah sederhana sebelum hujan berintensitas tinggi terjadi, seperti membersihkan saluran drainase dan lingkungan sekitar. Dokumen penting serta kebutuhan dasar juga disarankan disiapkan dalam satu tas yang mudah dibawa apabila sewaktu-waktu diperlukan evakuasi.

Potensi genangan, longsoran material dan sambaran petir perlu diwaspadai ketika hujan lebat berlangsung. BMKG meminta masyarakat terus mengikuti perkembangan informasi cuaca melalui aplikasi InfoBMKG maupun kanal resmi BMKG agar dapat menyesuaikan aktivitas dengan kondisi terbaru.

Dengan prakiraan puncak musim hujan yang berlangsung bertahap di berbagai wilayah, kewaspadaan masyarakat menjadi penting, terutama ketika hujan turun dengan durasi dan intensitas tinggi. Pemerintah daerah juga diharapkan memastikan langkah mitigasi dapat dilakukan lebih awal untuk mengurangi risiko dampak cuaca ekstrem.[DIKK]

0 Komentar