
Foto | Mahasiswa asal Jerman mengikuti latihan Tari Ranup Lampuan dan Likok Pulo di Sanggar Dance Kilometer Nol, Sabang.(dok.AGN)
Sabang.AGN – Mengenal Aceh tidak hanya dilakukan dengan mengunjungi destinasi wisata. Sebanyak 22 mahasiswa asal Jerman memilih mendekatkan diri dengan budaya lokal melalui pengalaman langsung mempelajari gerakan tari tradisional Aceh di Kota Sabang.
Kegiatan tersebut berlangsung di Sanggar Dance Kilometer Nol, Senin sore. Para mahasiswa datang bersama seorang dosen pendamping dan mendapat kesempatan untuk mengenal sekaligus mempraktikkan dua tarian tradisional Aceh, yakni Tari Ranup Lampuan dan Likok Pulo.
Ketua Sanggar Dance Kilometer Nol, Muhammad Deni Gunawan, S.Pd., menjadi pengajar dalam kegiatan tersebut. Ia memperagakan sejumlah gerakan dasar dari kedua tarian sebelum kemudian diikuti oleh para mahasiswa.
Meski merupakan pengalaman yang terbilang baru bagi mereka, para mahasiswa terlihat antusias mengikuti setiap gerakan yang diberikan. Suasana latihan berlangsung santai dan cair, dengan peserta sesekali terlihat berusaha menyesuaikan gerakan mereka dengan contoh yang diperagakan.
"Mereka sangat senang dan antusias ingin belajar. Mereka juga berharap bisa kembali lagi ke Sabang untuk mempelajari lebih mendalam tentang tarian Aceh," kata Deni saat diwawancarai awak media, Selasa (8/9/2026).
Menurut Deni, kegiatan tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi mahasiswa asal Jerman karena mereka dapat mengenal kebudayaan Aceh melalui proses belajar secara langsung. Pengalaman semacam itu dinilai memberikan pemahaman yang berbeda dibandingkan hanya menyaksikan kesenian tradisional sebagai sebuah pertunjukan.
Interaksi antara wisatawan dan pelaku seni lokal juga membuka ruang bagi budaya Aceh untuk semakin dikenal di luar negeri. Melalui kegiatan di sanggar, wisatawan dapat melihat secara lebih dekat bagaimana tarian tradisional dipelajari dan dilestarikan oleh masyarakat setempat.
Bagi para mahasiswa, kegiatan tersebut menjadi salah satu cara menikmati kunjungan ke Sabang dari sisi yang berbeda. Selain menikmati keindahan Pulau Weh, mereka memperoleh kesempatan untuk berinteraksi dengan masyarakat sekaligus mencoba langsung seni tradisional yang menjadi bagian dari identitas budaya Aceh.
Kegiatan itu juga menunjukkan peluang pengembangan wisata berbasis budaya di Kota Sabang. Tari Ranup Lampuan dan Likok Pulo tidak hanya dapat ditampilkan sebagai hiburan bagi wisatawan, tetapi juga dikemas sebagai pengalaman edukatif yang memungkinkan pengunjung terlibat langsung dalam proses mempelajarinya.
Deni berharap kunjungan wisatawan mancanegara ke sanggar seni dapat terus berkembang. Menurutnya, sanggar di Sabang berpotensi menjadi ruang interaksi budaya yang mempertemukan masyarakat lokal dengan wisatawan dari berbagai negara.
"Kami berharap kegiatan seperti ini terus ada. Sanggar bukan hanya tempat masyarakat belajar menari, tetapi juga bisa menjadi tempat wisatawan mengenal dan mempelajari budaya Aceh secara langsung," ujarnya.[PIM]
0 Komentar