
Foto | Keririsen, makanan berbahan beras ketan dan parutan kelapa yang menjadi salah satu kuliner khas Gayo Lues.(dok.Cut Nauval)
Banda Aceh.AGN – Kekayaan kuliner Gayo Lues tidak hanya menawarkan cita rasa, tetapi juga menyimpan cerita tentang tradisi dan kehidupan masyarakatnya. Hal itu terlihat dalam gelaran Aceh Culinary Festival di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh.
Memasuki Anjong Rumah Adat Gayo Lues, pengunjung disambut aroma makanan tradisional yang menjadi bagian dari kekayaan kuliner daerah tersebut. Suasana khas Gayo Lues juga diperkuat dengan ornamen dan ukiran tradisional serta lanskap persawahan yang menggambarkan kehidupan masyarakat setempat, Minggu (13/9/2026).
Di anjong tersebut, sejumlah makanan khas diperkenalkan kepada pengunjung. Di antaranya keririsen, itik encer dan dedah, yang masing-masing memiliki cara pengolahan serta cerita tradisi tersendiri.
Staf Dinas Pariwisata Gayo Lues, Maharmi, menjelaskan keririsen merupakan salah satu makanan tradisional yang hingga kini masih dikenal masyarakat. Sekilas, makanan tersebut memiliki kemiripan dengan lemang karena menggunakan beras ketan dan dimasak di dalam bambu.
Namun, bahan serta proses pembuatannya memiliki perbedaan. Keririsen tidak menggunakan santan. Beras ketan dicampur dengan parutan kelapa dan garam sebelum dimasukkan ke dalam bambu untuk dimasak.
“Keririsen hampir serupa dengan lemang. Bedanya tidak menggunakan santan, tetapi langsung parutan kelapa yang dicampur dengan garam,” kata Maharmi.
Cara memasaknya pun memiliki ciri tersendiri. Bambu yang digunakan untuk memasak keririsen tidak dilapisi daun pisang sebagaimana lazimnya pembuatan lemang. Perpaduan ketan, kelapa dan garam kemudian menghasilkan rasa gurih dengan sensasi lemak alami dari kelapa.
Bagi masyarakat Gayo Lues, keririsen juga memiliki hubungan erat dengan kegiatan tradisional. Makanan tersebut biasanya disiapkan ketika berlangsung kenduri, termasuk dalam momentum panen padi maupun ketan.
“Ketan yang baru dipanen rasanya lebih enak kalau dibuat keririsen,” ujarnya.
Kuliner lain yang diperkenalkan adalah itik encer. Berbeda dengan sejumlah masakan berbahan daging yang menggunakan santan, hidangan ini justru dimasak tanpa santan. Daging itik diolah bersama beragam rempah serta daun ruku-ruku atau reruku.
Perpaduan tersebut menghasilkan cita rasa gurih dan pedas dengan aroma rempah yang kuat. Hidangan ini juga kerap hadir dalam berbagai kegiatan berkumpul masyarakat.
“Itik encer setiap ada kumpul-kumpul pasti ada. Seperti tradisi kuah beulangong,” kata Maharmi.
Tidak hanya sebagai makanan, itik encer juga memiliki makna dalam tradisi masyarakat Gayo Lues, terutama dalam hal memuliakan tamu. Pada masa lalu, hampir setiap rumah memelihara itik sehingga hidangan tersebut relatif mudah disiapkan ketika kedatangan tamu atau saat keluarga menggelar kegiatan.
Sementara itu, dedah menjadi sajian lain yang ikut diperkenalkan. Makanan tersebut menggunakan sejumlah bumbu seperti bawang, cabai dan tomat. Menariknya, bumbu tidak dihaluskan, melainkan cukup diiris sebelum diolah.
Maharmi mengatakan keberadaan berbagai kuliner tersebut hingga kini masih dipertahankan masyarakat Gayo Lues. Perubahan pola kehidupan membuat tradisi panen yang dahulu melibatkan banyak orang kini tidak lagi berlangsung dengan cara yang sama.
Meski demikian, makanan tradisional tetap dibuat dan disajikan dalam berbagai kesempatan. Kehadiran kuliner Gayo Lues dalam Aceh Culinary Festival pun menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan kekayaan rasa sekaligus tradisi yang melekat di balik setiap hidangan.[CSA]
0 Komentar