![]() |
| Foto | Salak asal Kota Sabang yang menarik perhatian Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Enik Ermawati saat penutupan ACF 2026 di Banda Aceh.(dok.Disbudpar Aceh untuk AGN) |
Banda Aceh.AGN – Ukurannya boleh kecil, tetapi rasa manis salak asal Kota Sabang berhasil menarik perhatian Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Enik Ermawati. Buah lokal tersebut menjadi salah satu produk yang mencuri perhatian saat penutupan Aceh Culinary Festival (ACF) 2026 di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh.
Ni Luh mengaku terkesan setelah mencicipi salak Sabang yang memiliki ukuran relatif kecil namun menawarkan rasa manis yang kuat. Karakter tersebut bahkan membuatnya mengibaratkan buah khas Pulau Weh itu dengan pepatah “kecil-kecil cabai rawit”.
Salak Sabang ditampilkan sebagai salah satu produk lokal dalam perhelatan kuliner yang mempertemukan beragam makanan dan hasil pangan khas dari kabupaten/kota di Aceh. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya memperkenalkan produk daerah melalui sektor pariwisata dan kuliner.
Bagi Sabang, produk pangan lokal memiliki peran penting dalam memperkaya pengalaman wisatawan. Wisatawan yang datang ke Pulau Weh tidak hanya dapat menikmati panorama laut dan destinasi wisata, tetapi juga mengenal berbagai cita rasa serta hasil lokal yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Perhatian yang diberikan Wamenpar terhadap salak Sabang sekaligus menunjukkan bahwa produk sederhana dari daerah dapat memiliki daya tarik ketika dikemas dan diperkenalkan melalui ruang promosi yang tepat. Rasa khas menjadi salah satu kekuatan yang dapat membawa identitas daerah lebih jauh.
Dalam kesempatan tersebut, Ni Luh menekankan agar Aceh Culinary Festival tidak berhenti hanya sebagai kegiatan untuk menikmati beragam makanan. Menurutnya, festival kuliner harus mampu memberikan dampak yang lebih luas terhadap masyarakat, terutama dari sisi ekonomi.
“Kegiatan seperti ini jangan hanya menjadi tempat untuk menikmati makanan. Kita ingin kuliner bisa menggerakkan ekonomi masyarakat, membuka peluang usaha dan memperkenalkan produk lokal lebih luas,” ujar Ni Luh Enik Ermawati.
Pesan tersebut sejalan dengan peluang yang dimiliki Sabang untuk mengembangkan produk lokal sebagai bagian dari ekosistem pariwisata. Kuliner dan hasil pangan daerah dapat menjadi pelengkap destinasi sekaligus membuka ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memperluas pasar.
Salak Sabang menjadi salah satu contoh bagaimana produk pangan lokal dapat memiliki cerita tersendiri. Tidak hanya soal rasa manis yang menjadi daya tariknya, buah tersebut juga membawa identitas daerah asalnya ketika diperkenalkan kepada pengunjung dari luar Sabang.
Promosi produk lokal juga dapat berjalan beriringan dengan pengenalan destinasi wisata. Ketika wisatawan menikmati makanan atau membeli produk khas suatu daerah, pengalaman perjalanan yang diperoleh menjadi lebih beragam dan tidak semata-mata bergantung pada daya tarik alam.
Bagi pelaku UMKM dan masyarakat Sabang, perhatian terhadap produk lokal seperti salak dapat menjadi momentum untuk memperluas pengenalan berbagai komoditas khas lainnya. Produk pangan, kuliner dan hasil olahan masyarakat memiliki peluang untuk menjadi bagian dari cendera mata maupun pengalaman wisata.
Pujian Wamenpar terhadap salak Sabang pun menjadi catatan tersendiri dari pelaksanaan ACF 2026. Dari buah berukuran kecil itu, potensi besar produk lokal kembali mendapat ruang untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas.
Dengan kekayaan laut, rempah, hasil bumi dan ragam kuliner yang dimiliki, Sabang memiliki banyak pilihan produk yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari promosi pariwisata. Salak Sabang menjadi salah satu contoh bahwa kekuatan sebuah produk tidak selalu ditentukan oleh ukurannya, tetapi oleh karakter dan cerita yang dibawanya.[CSA]

0 Komentar