Kolase Teluk Sabang tempo dulu dan masa kini. Foto memperlihatkan aktivitas Pelabuhan Teluk Sabang pada era kolonial Belanda yang dipadukan dengan suasana kawasan wisata dan pelabuhan rakyat saat ini, menggambarkan perjalanan panjang Teluk Sabang sebagai gerbang maritim di ujung barat Indonesia.

24 Juni 2026. Hari ini Kota Sabang genap berusia 61 tahun.

Enam puluh satu tahun adalah usia yang tidak muda lagi. Sebuah rentang waktu yang seharusnya cukup panjang untuk mengumpulkan pengalaman, membangun kematangan, dan menorehkan jejak kemajuan. 

Namun pada akhirnya, usia hanyalah angka. Yang lebih penting adalah apa yang telah dicapai selama perjalanan itu.

Hari berganti hari, tahun berganti tahun. Para pemimpin datang dan pergi silih berganti. Ada yang benar-benar peduli kepada masyarakat. Ada yang menaruh perhatian besar pada lingkungan dan pariwisata. Ada pula yang lebih sibuk memikirkan dirinya sendiri.

Begitulah Sabang.

Sebuah kota yang tumbuh dengan ritmenya sendiri. Kadang berlari, kadang berjalan, dan tidak jarang seperti terjebak di tempat yang sama.

Tema Hari Ulang Tahun Kota Sabang tahun ini adalah "Sabang Merajut Keberagaman dari Titik Nol Kilometer Indonesia." Tema yang indah sekaligus menggambarkan wajah Sabang yang sesungguhnya. Kota ini memang kaya akan keberagaman; keberagaman suku, budaya, profesi, hingga cara pandang.

Namun di tengah keberagaman itu, terkadang kita sulit membedakan siapa yang benar-benar sedang membangun dan siapa yang hanya sedang menabung.

Sabang pernah memiliki masa kejayaannya.

Status sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas pernah menjadikan kota kecil di ujung barat Indonesia ini begitu strategis. Namun semuanya berubah ketika status Freeport ditutup melalui Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1985.

Harapan kembali muncul ketika pemerintah membuka kembali Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang melalui Undang-Undang Nomor 36 dan Nomor 37 Tahun 2000.

Sayangnya, pembukaan kembali itu belum mampu mengembalikan kejayaan Sabang seperti yang dibayangkan banyak orang.

Padahal secara geografis dan strategis, Sabang memiliki potensi besar untuk menjadi pusat aktivitas bisnis di kawasan barat Indonesia. Bukan hanya perdagangan, tetapi juga pusat pelayanan investasi dan perizinan yang melayani Aceh hingga Sumatera bagian utara.

Namun gagasan itu perlahan seperti berubah menjadi angan-angan.

Beberapa waktu terakhir, perhatian publik tertuju pada proyek migas raksasa di wilayah Andaman. Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat masih mencari titik temu terkait revisi dokumen perencanaan pengembangan wilayah kerja South Andaman.

Pemerintah Aceh menolak skema pengolahan gas di tengah laut dan meminta agar gas diproses di daratan Aceh sehingga nilai tambah ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat daerah.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan.

Jika seluruh rantai pengelolaan berpindah ke pusat, Aceh berpotensi hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri. Sumber daya alam diambil, sementara manfaat ekonominya mengalir ke tempat lain.

Hal yang sama juga dirasakan Sabang.

Sebagai daerah yang berada di pintu masuk paling barat Indonesia, banyak yang berharap kota ini dapat memperoleh manfaat dari geliat investasi dan pembangunan tersebut. Tidak perlu menjadi pusat utama. Mendapat bagian kecil saja sudah cukup untuk menggerakkan roda ekonomi daerah dan memperkuat sektor pariwisata yang selama ini menjadi andalan.

Namun harapan itu kembali berhadapan dengan kenyataan.

Sabang memang sudah dikenal dunia. Keindahan bawah lautnya memikat penyelam internasional. Pantainya menjadi destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara. Alam dan budayanya memiliki daya tarik yang tidak dimiliki banyak daerah lain.

Tetapi pada saat yang sama, berbagai persoalan mendasar masih membayangi.

Birokrasi yang belum sepenuhnya ramah investasi, keterbatasan anggaran, hingga persoalan transportasi yang terus berulang seolah menjadi pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai.

Ironisnya, Hari Ulang Tahun Kota Sabang tahun ini bertepatan dengan masa libur sekolah. Momentum yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menghadirkan berbagai atraksi budaya, festival, pertunjukan seni, atau kegiatan desa wisata yang mampu mendatangkan wisatawan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.

Namun itu tidak terjadi. Keterbatasan anggaran kembali menjadi alasan yang sulit dibantah.

Padahal sejumlah pemerhati pariwisata pernah mengusulkan agar pelaksanaan kegiatan diserahkan kepada gampong-gampong. Dengan cara itu, kreativitas masyarakat dapat tumbuh dan manfaat ekonomi bisa dirasakan lebih luas.

Sayangnya, anggaran di tingkat gampong pun mengalami tekanan yang sama.

Akibatnya, banyak ide berhenti sebatas wacana. Sabang seperti terus dibenturkan dengan keadaan.

Ketika kota ini mencoba bertumpu pada perdagangan, kebijakan berubah dan peluang menyempit.

Ketika kota ini fokus mengembangkan pariwisata, keterbatasan anggaran menjadi penghambat.

Ketika wisatawan mulai berdatangan dalam jumlah besar, persoalan transportasi justru menjadi momok yang menakutkan.

Salah satu keluhan yang paling sering terdengar adalah sulitnya mendapatkan tiket kapal Roro pada lintasan Balohan Sabang–Ulee Lheue Banda Aceh.

Bagi masyarakat lokal mungkin ini sekadar persoalan administratif. Namun bagi wisatawan, pengalaman buruk sering kali menjadi alasan untuk tidak kembali.

Tidak sedikit wisatawan yang terpaksa memutar balik karena gagal mendapatkan tiket. Sebagian lainnya memilih bertahan karena merasa perjalanan yang sudah ditempuh terlalu jauh untuk dibatalkan begitu saja.

Persoalan ini sebenarnya bukan hal baru.

Sistem tiket online pernah dibahas dalam berbagai forum. Keluhan masyarakat berulang kali disampaikan. Aspirasi terus muncul dari berbagai kalangan.

Namun hingga hari ini, solusi yang benar-benar menjawab persoalan belum juga terlihat.

Masyarakat bertanya-tanya.

Apakah suara mereka tidak didengar?

Atau mungkin sudah didengar, tetapi belum dianggap penting?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggantung di udara. Lalu saya kembali bertanya kepada diri sendiri.

Apakah semua ini sekadar proses yang harus dilalui sebuah daerah yang sedang tumbuh?

Ataukah ada sesuatu yang membuat Pulau Weh seperti tidak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk bangkit sepenuhnya?

Kadang saya merasa Sabang seperti seekor sapi yang diikat pada seutas tali panjang. Ia masih bisa bergerak, masih bisa mencari makan, masih bisa berjalan ke sana kemari. Namun sejauh apa pun ia melangkah, ada batas yang tidak bisa dilewati.

Dan ketika tali itu mulai terasa sesak di lehernya, selalu ada suara yang datang menenangkan.

"Bapak tenang saja, itu sudah oke. Pintu keluar sebelah sana."

Kalimat yang terdengar sederhana, tetapi sering kali menjadi simbol dari sikap yang enggan mendengar lebih jauh.

Di usia ke-61 tahun ini, Sabang tidak membutuhkan pujian berlebihan.

Sabang membutuhkan keberanian untuk melihat kenyataan apa adanya.

Bahwa kota ini memiliki potensi besar.

Bahwa masyarakatnya memiliki mimpi-mimpi yang belum selesai.

Bahwa generasi mudanya masih percaya masa depan dapat dibangun dari pulau kecil di ujung barat Indonesia.

Dan bahwa cinta kepada Sabang tidak selalu diwujudkan melalui tepuk tangan, tetapi juga melalui kritik yang jujur.

Sebab pada akhirnya, kritik lahir bukan karena kebencian.

Kritik lahir karena harapan.

Harapan agar suatu hari nanti Sabang tidak lagi sekadar menjadi kota yang indah untuk dikunjungi, tetapi juga menjadi kota yang mampu memberikan kesejahteraan bagi mereka yang memilih tinggal dan membangun masa depan di dalamnya.

Selamat ulang tahun ke-61, Kota Sabang.

Aku masih di sini.

Masih menyimpan mimpi yang sama.

Masih percaya bahwa suatu hari nanti, kota kecil di Titik Nol Kilometer Indonesia ini akan menemukan jalannya sendiri menuju masa depan yang lebih baik.[RED]